Dampak Negatif Terlalu Sering Menggunakan Obat Nyamuk Semprot

Rabu, 19 Desember 2018

Obat semprot menjadi pembasmi paling ampuh untuk menghilangkan serangga pengganggu dari rumah Anda. Ketimbang menggunakan bahan alami yang memiliki efek yang jauh lebih lama, obat semprot ini jauh lebih instan dan efektif untuk membasmi serangga dengan cepat.

Selain untuk membasmi nyamuk, obat semprot ini juga bisa berguna untuk menghilangkan kecoa, semut dan bahkan lalat.

Tapi apakah obat ini memiliki dampak negatif jika digunakan terus menerus? 

Bagaimana Obat Pembasmi Serangga Bekerja

Serangga tidak menyukai bau obat ini. Karena serangga tertarik kepada Anda. Bau semprotan ini "menyembunyikan" bau kulit Anda dan itu membuat mereka jauh dari atraktan karbon dioksida karena mereka tidak ingin mendekati bau obat semprot ini.

Salah satu bahan kimia yang ditemukan dalam banyak pembasmi serangga adalah DEET (N, N-dietil-m-toluamide).

Promo: diskon 100 ribu untuk jasa kebersihan All in One, klik disini!

Dikembangkan dan diuji pada tahun 1940 hingga 1950-an oleh Angkatan Darat AS untuk digunakan dalam peperangan hutan selama Perang Dunia II, DEET sangat efisien dalam mengusir nyamuk, kutu, lalat darah seperti lalat hitam dan lalat rusa.

Selain bentuk populer seperti aerosol dan semprotan, DEET juga ditemukan dalam handuk, lotion, krim, dan gel. Bahan kimia ini membuat serangga pergi menjauh selama berjam-jam setelah digunakan dan dapat diaplikasikan di atas tabir surya.

Tapi selama DEET digunakan, bahan ini telah menimbulkan pertanyaan atas keamanannya dari warga dan ilmuwan. Beberapa dari mereka terganggu oleh baunya, sementara yang lain khawatir bahwa itu dapat mengiritasi kulit.

Banyak yang merasakan sengatan terbakar dari penyemprotan serangga yang tidak sengaja di atas luka kecil.

Meskipun Badan Perlindungan Lingkungan kembali menyetujui penggunaan DEET pada tahun 1998 setelah tinjauan keamanan yang luas, data baru menunjukkan bahwa substansi dapat mempengaruhi sel-sel kita dengan cara yang tidak diinginkan.

Sebuah studi tahun 2009 menemukan bahwa DEET dapat mengganggu aktivitas enzim yang penting bagi sistem saraf untuk berfungsi dengan baik.

Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan bahwa DEET memblokir enzim cholinesterase, yang penting untuk mengirimkan pesan dari otak ke otot-otot serangga.

Para peneliti mencatat bahwa DEET juga dapat mempengaruhi sistem saraf mamalia, dan bahwa lebih banyak penelitian di bidang ini diperlukan.

Penelitian, yang dilakukan oleh Institute of Development Research di Perancis, dan diterbitkan dalam jurnal BMC Biology, menemukan bahwa bahan kimia yang mengganggu kerja cholinesterase dapat menyebabkan air liur berlebihan dan mengurangi cara kerja mata dalam dosis rendah, diikuti oleh kejang otot dan akhirnya kematian. 

Namun, berdasarkan tinjauan tahun 1998, pejabat EPA menetapkan bahwa DEET, jika digunakan sesuai petunjuk, tidak menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan kepada konsumen.

Sementara studi DEET baru-baru ini dapat menghalangi beberapa orang dari menggunakan semprotan serangga, para ilmuwan lain telah menyarankan bahwa tujuan penolak serangga adalah untuk mencegah manusia tertusuk serangga yang dapat menularkan penyakit, termasuk penyakit Lyme, malaria dan ensefalitis.

Jadi apa alternatif yang cocok untuk menggantikan DEET?

Salah satu obat pendatang terbaru adalah picaridin, suatu zat yang berasal dari lada yang populer di Eropa dan Australia.

Studi oleh produsennya menunjukkan bahwa picaridin dapat bertahan hingga dua hingga delapan jam dan sama efektifnya dengan DEET, tetapi tidak berminyak dan sama sekali tidak berbau. Studi independen tentang bahan ini sedang dilakukan.

Pengusir serangga lain di pasaran adalah zat IR3535, yang juga semakin populer sejak disetujui di AS sekitar satu dekade lalu.

Berbeda dengan Amerika, bahan ini sudah lebih dulu tersedia di Eropa selama 20 tahun, banyak penelitian telah mengkonfirmasi keefektifan zat IR3535, yang dapat menawarkan perlindungan hingga 10 jam.

EPA sangat menyarankan agar konsumen membaca petunjuk dengan hati-hati pada produk semprot serangga sebelum menerapkannya untuk memastikan bahwa mereka diterapkan dan digunakan dengan aman, terutama pada wilayah anak-anak.

Pusat Pengendalian Penyakit menyarankan bahwa DEET dalam bentuk krim disemprotkan ke pakaian, bukan langsung ke kulit. Langkah lain untuk memastikan bahwa Anda menerapkan semprotan serangga dengan cara yang paling aman adalah :

- Jangan pernah menggunakan semprotan serangga di atas luka atau kulit yang teriritasi.

- Jangan diaplikasikan pada tangan atau dekat mata dan mulut, terutama anak kecil.

- Jangan biarkan anak-anak kecil untuk menggunakan produk DEET sendiri.

- Setelah kembali ke dalam ruangan, cuci kulit yang terkena semprotan serangga dengan sabun dan air.

- Beberapa produk semprotan serangga tidak dapat digunakan pada anak-anak di bawah tiga tahun, jadi selalu periksa label untuk memastikan.


Risiko Kesehatan yang Dihasilkan Obat Penolak Serangga

Ketika Anda menggunakan obat semprot yang mengandung N, N-dietil-3-methylbenzamide, ada sedikit kemungkinan bahwa kesehatan Anda akan terpengaruh, kecuali Anda memiliki alergi terhadap obat tersebut.

Jerome Goddard, Ph.D., dalam sebuah artikel menyatakan bahwa beberapa orang telah mengalami reaksi sistemik jika mereka berulang kali terkena Deet yang disemprotkan pada kulit.

Satu studi yang disebutkan oleh Goddard menunjukkan bahwa enam gadis berusia 17 bulan hingga 8 tahun, menunjukkan beberapa perubahan perilaku, kejang, ataksia, ensefalopati atau koma setelah mereka berulang kali terkena Deet, dan tiga dari gadis itu akhirnya meninggal.

Dalam situasi lain, dilaporkan bahwa beberapa karyawan Taman Nasional Everglades menderita iritasi, kebingungan dan insomnia. Namun, mereka yang terkena dampak adalah orang yang menggunakan DEET tanpa membaca aturan penggunaan.